Periode “ON” dan “OFF” pada Survivor Parkinson

Bagi survivor Parkinson yang sudah menjalani terapi obat levodopa dalam jangka panjang, istilah “ON” dan “OFF” menjadi bagian dari keseharian mereka. Fenomena ini menggambarkan fluktuasi kemampuan bergerak yang muncul seiring perjalanan penyakit dan penggunaan obat, dan menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penanganan Parkinson tahap lanjut.

Apa Itu Periode “ON” dan “OFF”?

  • Periode “ON” adalah saat obat bekerja efektif, gejala motorik seperti tremor, kekakuan, dan bradikinesia (gerakan melambat) terkendali dengan baik, dan survivor dapat bergerak relatif normal.
  • Periode “OFF” adalah saat efek obat belum bekerja atau sudah habis, sehingga gejala Parkinson kembali muncul. Gerakan menjadi lambat, kaku, sulit memulai gerakan, bahkan terkadang survivor mengalami freezing (tiba-tiba tidak bisa bergerak sama sekali untuk beberapa detik hingga menit).

Pada tahap awal pengobatan, levodopa biasanya bekerja stabil sepanjang hari karena sel-sel saraf yang tersisa di otak masih mampu menyimpan dan melepaskan dopamin secara bertahap, sehingga efeknya “menyangga” kekurangan dopamin di antara waktu minum obat. Namun seiring progresivitas penyakit, kemampuan ini menurun, sehingga kadar dopamin di otak menjadi sangat bergantung langsung pada kadar levodopa dalam darah. Di sinilah fluktuasi “ON-OFF” mulai muncul.

Jenis-Jenis Fluktuasi Motorik

  1. Wearing off (habis sebelum waktunya). Efek levodopa mulai menghilang sebelum jadwal dosis berikutnya, sehingga gejala Parkinson muncul kembali secara bertahap dan cukup bisa diprediksi waktunya. Ini adalah jenis fluktuasi motorik paling umum dan biasanya menjadi tanda awal munculnya komplikasi motorik pada terapi levodopa jangka panjang.
  2. Delayed “ON” atau no “ON”. Setelah minum obat, efeknya baru terasa lebih lambat dari biasanya, atau bahkan tidak muncul sama sekali pada dosis tertentu. Kondisi ini lebih sering terjadi pada sediaan levodopa lepas-lambat (extended-release).
  3. Unpredictable “OFF” (“OFF” tak terduga). Pada tahap penyakit yang lebih lanjut, periode OFF bisa muncul tiba-tiba tanpa pola yang jelas, tidak selalu berkaitan dengan jadwal minum obat, sehingga jauh lebih sulit diantisipasi maupun dikelola.
  4. Morning “OFF”. Gejala OFF yang dialami saat bangun tidur di pagi hari, sebelum dosis levodopa pertama diminum, karena kadar obat dari malam sebelumnya sudah sepenuhnya habis.

Dyskinesia: “Efek Samping” dari “ON” yang Berlebihan

Selain fluktuasi “ON-OFF”, survivor yang menjalani terapi levodopa jangka panjang juga berisiko mengalami dyskinesia — gerakan tak terkendali, menyentak, atau bergoyang yang muncul biasanya justru saat kadar obat sedang di puncak (peak-dose dyskinesia). Ini terjadi karena otak menjadi semakin sensitif terhadap rangsangan dopamin seiring waktu, sehingga survivor dan dokter sering dihadapkan pada dilema: menurunkan dosis levodopa untuk mengurangi dyskinesia berisiko memperpanjang periode “OFF”, sementara menaikkan dosis untuk memperpanjang periode “ON” berisiko memperberat dyskinesia.

Faktor yang Mempercepat Munculnya Fluktuasi

  • Durasi penggunaan levodopa yang semakin lama (umumnya muncul dalam 5–10 tahun pertama terapi)
  • Progresivitas penyakit yang mengurangi kapasitas penyimpanan dopamin di otak
  • Dosis levodopa yang tinggi sejak awal terapi, terutama pada survivor usia muda
  • Penyerapan obat di usus yang menjadi tidak konsisten pada tahap penyakit lanjut

Pendekatan Penanganan

Beberapa strategi yang umum digunakan untuk mengelola fluktuasi “ON-OFF” meliputi:

  • Penyesuaian jadwal dan dosis levodopa (dosis lebih kecil namun lebih sering)
  • Penambahan obat golongan COMT inhibitor atau MAO-B inhibitor untuk memperpanjang efek levodopa
  • Penggunaan agonis dopamin sebagai terapi tambahan
  • Terapi infus kontinu (misalnya apomorfin atau levodopa-karbidopa intestinal) pada kasus yang lebih berat
  • Pada survivor dengan fluktuasi motorik berat yang tidak lagi terkendali optimal dengan obat, terapi Deep Brain Stimulation (DBS) dapat dipertimbangkan untuk membantu menstabilkan kontrol gerakan dan mengurangi durasi periode “OFF” serta dyskinesia

Kesimpulan

Periode “ON” dan “OFF” adalah tantangan yang hampir pasti dihadapi oleh survivor Parkinson seiring perjalanan penyakit dan terapi levodopa jangka panjang. Memahami pola fluktuasi ini penting bagi survivor, keluarga, caregiver, maupun tenaga medis agar strategi pengobatan dapat disesuaikan secara tepat waktu, baik melalui penyesuaian obat maupun, pada kasus tertentu, intervensi lanjutan seperti DBS, demi menjaga kualitas hidup dan kemandirian survivor sehari-hari.

Share To :

Artikel Terkait

Jakarta — Yayasan Sahabat Parkinson Indonesia menggelar Indonesia Parkinson Ecosystem Forum 2026 pada Selasa, 22 September

Parkinson termasuk ke dalam kelompok penyakit neurodegeneratif. Klasifikasi ini penting untuk dipahami karena berkaitan langsung dengan

Tidak semua gangguan postur tubuh berarti seseorang mengidap Parkinson. Namun, perlu diketahui bahwa ketidakseimbangan postur memang

Scroll to Top