Amankah Penyintas Epilepsi Minum Kopi atau Teh?

Bagi banyak orang kopi, teh, atau minuman berkafein lainnya sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Namun, bagi penyintas epilepsi, sering muncul pertanyaan: apakah aman mengonsumsi kafein?

Apa itu Kafein?

Secara umum, kafein adalah zat stimulan yang bekerja pada sistem saraf pusat. Dalam jumlah sedang, kafein dapat membantu meningkatkan fokus, mengurangi rasa kantuk, dan memberikan rasa segar. Namun, pada beberapa orang, konsumsi kafein berlebihan justru bisa memicu gangguan tidur, meningkatkan kecemasan, dan dalam kasus tertentu dapat memperburuk kondisi neurologis [1].

 

 

Hubungan Kafein dan Epilepsi

Untuk penyintas epilepsi, kafein tidak secara langsung menyebabkan bangkitan. Penelitian menunjukkan bahwa efek kafein terhadap epilepsi bisa berbeda pada setiap individu. Beberapa orang mungkin tidak merasakan masalah sama sekali, sementara yang lain bisa lebih sensitif. Faktor yang paling berpengaruh adalah jumlah konsumsi kafein dan kualitas tidur. Kurang tidur merupakan salah satu pemicu bangkitan epilepsi, dan kafein dalam jumlah tinggi dapat mengganggu pola tidur [2].

Sebuah jurnal penelitian menulis juga bahwa hubungan kafein dan epilepsi adalah hal yang kompleks dan belum diketahui secara menyeluruh. Beberapa kasus penelitian juga menunjukkan bahwa kafein dapat membantu mengurangi ambang batas bangkitan. Namun, beberapa hasil pre-klinis menunjukkan bahwa kafein dapat menurunkan efektivitas obat antiepilepsi, khususnya pada obat topiramate. Perlu diperhatikan juga bahwa efek tersebut bergantung pada dosis kafein dan kondisi penyintas [3].

Konsumsi Kafein Penyintas Epilepsi

Penyintas epilepsi tetap boleh mengonsumsi kafein, tetapi sebaiknya dalam jumlah terbatas. Secangkir kopi atau teh dalam sehari umumnya masih aman, selama tidak menimbulkan gangguan tidur atau gejala lain yang mengkhawatirkan. Penting juga untuk menghindari minuman energi dengan kadar kafein tinggi [4].

Kesimpulan

Kesimpulannya, kafein tidak dilarang bagi penyintas epilepsi, tetapi penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Konsultasi dengan dokter sangat dianjurkan agar konsumsi kafein tetap aman.

Referensi

  1.  National Health Service (NHS). (2022). Epilepsy and Lifestyle. https://www.nhs.uk
  2. Szaflarski, J. P., & Allendorfer, J. B. (2012). Caffeine and epilepsy: A review of the literature. Epilepsy & Behavior, 23(1), 1–6.
  3. van Koert, R. R., Bauer, P. R., Schuitema, I., Sander, J. W., & Visser, G. H. (2018). Caffeine and seizures: A systematic review and quantitative analysis. Epilepsy & behavior : E&B, 80, 37–47. https://doi.org/10.1016/j.yebeh.2017.11.003
  4. Epilepsy Foundation. (2023). Lifestyle and Epilepsy: Caffeine and Other Substances. https://www.epilepsy.com
Share To :

Artikel Terkait

Banyak orang mengenal Parkinson sebagai salah satu gangguan saraf yang menyebabkan tubuh menjadi kaku, gerakan melambat,

Epilepsi adalah kondisi gangguan pada otak yang membuat seseorang mengalami bangkitan (serangan) berulang. Untuk mengendalikan bangkitan

Epilepsi adalah gangguan otak yang ditandai dengan bangkitan berulang. Bangkitan, atau yang lebih umum dikenal masyarakat

Scroll to Top